Sejarah Berdiri

Kecenderungan bimbel menjadi lahan bisnis dan menomorduakan visi sosialnya dalam mendidik menjadi fakta yang tidak bisa ditampik. Pertimbangan inilah yang mendorong Suwah Sembiring dan temannya mendirikan Quantum sejak 2001. Menurut Suwah, meski Quantum sebagai usaha jasa profit, tapi tetap harus memiliki visi pendidikan yang kuat. Karena itu, bimbel ini juga melatih rasa kepemilikan bagi timnya dengan membagikan profit sesuai porsinya. Seperti bimbel pada umumnya (tapi bukan yang waralaba), Quantum memberikan bimbingan untuk jenjang SD - SMA. Sedangkan kurikulumnya merujuk pada kurikulum yang dikeluarkan pendidikan nasional. Di Quantum, anak didik benar-benar mendapat bimbingan secara utuh. Anak diantarkan untuk mendengar, melihat, dan mengalami apa itu belajar. Sesuai namanya, metode belajar ala Quantum diterapkan pada semua guru dan murid-muridnya.Hal yang menarik dari Quantum terletak pada man to man teaching, hubungan guru-murid. Di sini, guru stand by tanpa pernah absen memberi anak murid bimbingan soal pelajaran. Tak mengherankan jika keharmonisan ini tergambar dalam suasana belajar, bukan saja di dalam kelas, tapi juga sampai di luar kelas. Situasi belajar informal ini menjadi kelebihan Quantum. Tak mengherankan banyak siswa yang mengkonsultasikan pelajarannya sampai pukul 10 malam. “Hal itu tetap kami layani sepenuh hati,” papar penemu Metode SS ini.Dalam menghadapi ujian nasional, Quantum menerapkan strategi drilling soal-soal UN secara terarah dalam dua tahun terakhir. Maksud terarah, soal dijelaskan oleh pengajar kemudian pertemuan selanjutnya diujikan. Hal ini dilakukan agar lebih melekat di otak siswa. Seminggu setelahnya, soal itu diujikan lagi pada siswa. Harapannya, siswa-siswa akan paham sejauh mana materi yang telah diujikan.Khusus bagi anak-anak yang kurang menguasai matematika, bisa mendapat jam tambahan. Mereka bisa masuk kelas matematika dengan ‘metode SS’. Metode ini, menurut Suwah, sebetulnya sudah diujicobakan sejak lama. Namun, untuk penerapannya masih di Quantum Kalideres. Sampai sekarang, Quantum tetap mengedepankan kualitas ketimbang memikirkan kuantitas siswa. Dari peningkatan kualitas siswa, nama Quantum bisa menjadi besar. “Karena itu, kami jarang mengiklankan diri. Karena sesungguhnya, mereka sendirilah yang menjadi ikon dan bintang Quantum sampai sekarang,” kata penulis sekaligus trainer matematika ini.